Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) merupakan bidang yang sangat dinamis. Di Indonesia, pengaturan pengelolaan B3 tunduk pada PP No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

Secara umum, PP No. 74 Tahun 2001 mengatur “bahan beracun dan berbahaya,” yang berdasarkan definisinya dikualifikasikan jika memenuhi unsur berikut:

  • bahan yang karena sifat, konsentrasi dan/atau jumlahnya
  • secara langsung maupun tidak langsung, dapat:
    • mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup; dan/atau
    • membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

PP No. 74 Tahun 2001 mengklasifikasikan B3 menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:

Ketika suatu bahan memenuhi kualifikasi B3, namun belum dimuat di lampiran, maka penghasil dan/atau pengimpor pertama B3 tersebut wajib meregistrasi B3. Registrasi untuk B3 yang dikecualikan dari PP No. 74 Tahun 2001 dilakukan oleh instansi yang berwenang sesuai peraturan lain yang mengaturnya, sementara registrasi B3 dalam lingkup PP No. 74 Tahun 2001 dilakukan oleh KLHK. Namun, pasca 2017, registrasi di KLHK dihentikan hingga terbitnya Peraturan Pemerintah pengganti PP No. 74 Tahun 2001.

Selain itu, setiap kegiatan yang menghasilkan B3, serta pengangkutan, pengedaran, penyimpanan, penggunaan atau pembuangan B3 tunduk pada kewajiban yang diatur dalam PP ini. Beberapa ketentuan penting dalam pengelolaan B3 adalah:

Selain pengaturan B3 secara umum, pendekatan bahan kimia juga sangat kental dalam dinamika pengelolaan B3. Dalam hal ini, perkembangan pengaturan di tingkat nasional kerap kali tidak terlepas dari pengaturan di tingkat global. Beberapa bahan kimia kunci yang diatur dalam instrumen hukum internasional, sebelum diimplementasikan dalam hukum nasional, adalah sebagai berikut:

  • Merkuri dan Konvensi Minamata
  • Persistent Organic Pollutants (POPs) dan Konvensi Stockholm
  • Pestisida yang Sangat Berbahaya dan Konvensi Rotterdam

Selain per bahan kimia, terdapat pula gerakan global untuk menggunakan pendekatan strategis dalam pengelolaan bahan kimia, yang disebut Strategic Approach to International Chemical Management. Pendekatan ini, bagaimanapun, tetap memiliki beberapa topik prioritas berdasarkan jenis bahan kimia atau bahkan bahan kimia tertentu, seperti Timbal dalam Cat.